Abstrak
Perkembangan teknologi digital memberi anak dan remaja akses luas terhadap pembelajaran, informasi, hiburan, serta relasi sosial. Namun, ruang digital juga menghadirkan tekanan psikologis baru yang perlu mendapat perhatian keluarga dan sekolah. Fenomena tersebut antara lain fear of missing out atau FoMO, fear of better options atau FoBO, serta FoJO yang dalam tulisan ini merujuk pada ketakutan anak untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas sosial maupun akademik.
Tulisan ini membahas FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja melalui kajian pustaka populer berbasis penelitian, laporan lembaga internasional, dan rekomendasi pendampingan digital. Kajian menunjukkan bahwa FoMO memiliki dasar penelitian yang kuat dan berkaitan dengan penggunaan media sosial yang problematik, perbandingan sosial, serta penurunan kepuasan hidup pada sebagian remaja. Sementara itu, FoBO dan FoJO lebih tepat dipakai sebagai istilah perilaku untuk menjelaskan keraguan mengambil keputusan dan hambatan berpartisipasi. Oleh karena itu, orang tua dan sekolah perlu memperkuat komunikasi, regulasi diri, literasi digital, serta lingkungan belajar yang aman.
Kata Kunci: FoMO, FoBO, FoJO, anak dan remaja, pendidikan, media sosial, parenting digital.
Pendahuluan
FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja menjadi isu penting dalam pendidikan pada era digital. Anak dan remaja sekarang dapat melihat aktivitas teman, tren populer, pencapaian akademik, barang baru, serta berbagai bentuk hiburan hanya melalui satu perangkat. Kemudahan tersebut memberi manfaat besar, terutama untuk belajar dan membangun jaringan sosial. Namun, arus informasi yang cepat juga dapat menimbulkan kecemasan, kebingungan, dan tekanan sosial.
Selain itu, media sosial sering menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Anak mungkin melihat teman yang tampak lebih bahagia, lebih berprestasi, lebih populer, atau lebih mampu secara ekonomi. Akibatnya, anak dapat membandingkan hidupnya dengan tampilan digital yang belum tentu utuh. Perbandingan tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri, fokus belajar, dan cara anak menilai dirinya sendiri.
Laporan Health Behaviour in School-aged Children dari WHO Regional Office for Europe menunjukkan bahwa 11% remaja dalam survei tahun 2022 mengalami tanda penggunaan media sosial yang problematik. Angka tersebut meningkat dari 7% pada tahun 2018. WHO juga mencatat bahwa penggunaan media sosial problematik berkaitan dengan kesulitan mengendalikan penggunaan, pengabaian aktivitas lain, serta konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari.¹
Namun, orang tua dan guru tidak perlu memandang teknologi sebagai musuh. Media sosial juga dapat membantu remaja menemukan komunitas belajar, memperluas dukungan sosial, mengembangkan kreativitas, dan mengakses pengetahuan. Oleh karena itu, keluarga dan sekolah perlu memahami kualitas penggunaan media digital, bukan hanya menghitung durasi layar anak.
Memahami FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja
FoMO: Takut Tertinggal dari Pengalaman Orang Lain
FoMO merupakan singkatan dari fear of missing out. Istilah ini menggambarkan kecemasan ketika seseorang merasa orang lain sedang mengalami hal menarik tanpa dirinya. Anak yang mengalami FoMO sering merasa perlu memeriksa notifikasi, grup pertemanan, unggahan media sosial, atau tren terbaru agar tidak merasa tertinggal.
Andrew K. Przybylski dan rekan-rekannya menjelaskan FoMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain memperoleh pengalaman yang lebih memuaskan. Kondisi itu mendorong seseorang untuk tetap terhubung secara terus-menerus dengan aktivitas orang lain.² Pada anak dan remaja, FoMO dapat muncul saat mereka sulit berhenti membuka telepon, gelisah ketika tidak membaca pesan grup, atau merasa harus mengikuti tren agar diterima teman sebaya.
FoMO bukan diagnosis klinis. Namun, FoMO dapat mengganggu kehidupan anak ketika kecemasan tersebut berlangsung terus-menerus dan menghambat belajar, tidur, ibadah, interaksi keluarga, atau kegiatan sosial nyata. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak tanpa langsung memberi cap negatif.
FoBO: Takut Memilih karena Ada Pilihan yang Lebih Baik
FoBO merupakan singkatan dari fear of better options. Istilah ini menggambarkan rasa takut mengambil keputusan karena seseorang merasa masih ada pilihan lain yang lebih baik. Anak atau remaja dengan kecenderungan FoBO sering menunda keputusan, terus membandingkan pilihan, lalu merasa tidak yakin terhadap pilihannya sendiri.
Dalam konteks pendidikan, FoBO dapat muncul ketika remaja memilih jurusan, kegiatan ekstrakurikuler, kursus, organisasi, komunitas belajar, atau rencana studi lanjutan. Mereka mungkin terus mencari informasi baru, tetapi tidak segera menentukan langkah. Akibatnya, mereka kehilangan waktu untuk menjalankan pilihan yang sebenarnya sudah cukup sesuai.
Kajian tentang FoBO masih jauh lebih terbatas daripada FoMO. Penelitian yang ada banyak membahas FoBO dalam konteks pengambilan keputusan dan pilihan konsumen.³ Oleh karena itu, tulisan ini menggunakan FoBO sebagai istilah perilaku, bukan sebagai diagnosis psikologis atau gangguan mental.
FoJO: Takut Berpartisipasi dan Takut Tidak Diterima
FoJO belum memiliki definisi baku dalam literatur psikologi. Dalam tulisan ini, FoJO digunakan untuk menggambarkan ketakutan anak atau remaja ketika ingin bergabung, menyampaikan pendapat, mengunggah karya, mengikuti lomba, atau masuk ke dalam komunitas tertentu. Anak merasa takut tidak diterima, takut dianggap kurang menarik, atau takut mendapat respons negatif.
Fenomena ini tampak ketika anak sebenarnya ingin bertanya di kelas, tetapi memilih diam. Anak juga mungkin ingin mengirim tugas, membagikan karya, mengikuti organisasi, atau menyampaikan pendapat di grup kelas. Namun, rasa takut terhadap penilaian orang lain membuatnya mengurungkan niat.
Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memakai istilah FoJO secara hati-hati. Mereka tidak boleh memberi label klinis kepada anak hanya karena anak tampak pemalu atau kurang aktif. Sebaliknya, mereka perlu mencari tahu alasan anak menahan diri, apakah karena kurang percaya diri, pengalaman perundungan, kecemasan sosial, atau lingkungan yang tidak aman.
| Fenomena | Makna Utama | Contoh pada Anak dan Remaja | Risiko dalam Pendidikan |
|---|---|---|---|
| FoMO | Takut tertinggal informasi atau pengalaman | Anak terus memeriksa grup kelas saat belajar | Fokus belajar terpecah |
| FoBO | Takut memilih karena mencari opsi yang lebih baik | Remaja menunda memilih jurusan atau kegiatan | Prokrastinasi dan kebingungan |
| FoJO | Takut ikut bergabung atau berpartisipasi | Anak tidak berani bertanya atau mengirim karya | Kepercayaan diri menurun |
Mengapa Anak dan Remaja Rentan terhadap Fenomena Ini?
Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas diri. Pada fase ini, anak mulai mencari pengakuan sosial, membangun pertemanan, dan belajar mengambil keputusan secara mandiri. Karena itu, opini teman sebaya sering memiliki pengaruh besar terhadap cara remaja menilai dirinya.
Selain itu, media sosial menyediakan berbagai fitur yang mendorong pengguna terus kembali membuka aplikasi. Notifikasi, infinite scroll, video otomatis, jumlah suka, jumlah pengikut, dan tren harian dapat membuat anak terus memeriksa layar. UNICEF menjelaskan bahwa fitur seperti notifikasi, pemutaran otomatis, infinite scroll, dan angka interaksi dapat membuat anak maupun orang dewasa menghabiskan waktu lebih lama di platform digital.⁴
Di sisi lain, sebagian anak memakai media sosial untuk mengurangi bosan, mencari pengakuan, menghindari masalah, atau merasa tetap terhubung dengan teman. Pola ini dapat menjadi tidak sehat apabila anak tidak memiliki kemampuan mengatur emosi dan waktu. Karena itu, orang tua perlu membantu anak membedakan penggunaan media sosial yang bermanfaat dengan penggunaan yang hanya memberi kepuasan sesaat.
Sebuah tinjauan sistematis tahun 2025 menemukan bahwa faktor teman sebaya, perbandingan sosial, FoMO, emosi negatif, masalah kesehatan mental, serta kemampuan regulasi diri yang lemah dapat meningkatkan risiko penggunaan media sosial problematik pada remaja.⁵ Temuan tersebut menunjukkan bahwa keluarga perlu melihat pengalaman emosional anak secara menyeluruh.
Dampak FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja terhadap Pendidikan
Konsentrasi Belajar Menurun
FoMO dapat membuat anak sulit fokus ketika belajar. Anak mungkin membaca buku sambil menunggu notifikasi masuk. Selain itu, anak dapat membuka media sosial berulang kali karena takut melewatkan percakapan penting di grup pertemanan atau grup kelas.
Kebiasaan tersebut membuat perhatian anak terpecah. Anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi. Mereka juga lebih mudah menunda tugas karena berpindah dari buku, video pembelajaran, pesan pribadi, dan konten hiburan secara bergantian.
Namun, masalah utama bukan hanya telepon genggam. Anak juga perlu belajar mengatur dorongan untuk terus mengecek layar. Oleh karena itu, keluarga dapat membiasakan waktu belajar tanpa notifikasi dan menyediakan ruang belajar yang tenang.
Pengambilan Keputusan Menjadi Lambat
FoBO dapat membuat remaja terus mencari pilihan yang dianggap paling sempurna. Mereka mungkin membandingkan sekolah, jurusan, beasiswa, pelatihan, organisasi, hingga aktivitas harian. Namun, semakin banyak pilihan yang mereka lihat, semakin sulit mereka menetapkan prioritas.
Selain itu, anak dapat merasa takut menyesal setelah mengambil keputusan. Karena takut salah, mereka memilih menunda. Padahal, banyak keputusan pendidikan tidak menuntut jawaban sempurna. Remaja perlu belajar memilih berdasarkan kebutuhan, tujuan, informasi yang cukup, dan kemampuan yang tersedia.
Orang tua dapat membantu anak melalui langkah sederhana: tentukan tujuan, batasi pilihan, bandingkan manfaat dan risiko, pilih satu langkah realistis, lalu lakukan evaluasi. Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa keputusan dapat diperbaiki melalui usaha dan refleksi.
Keberanian Berpartisipasi Berkurang
FoJO dapat membuat anak menahan gagasan dan potensinya. Anak mungkin takut bertanya karena khawatir teman menertawakan jawabannya. Selain itu, anak dapat menghindari presentasi, lomba, organisasi, atau diskusi kelas karena takut tidak diterima.
Kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan keterampilan komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan. Padahal, pendidikan tidak hanya menilai hasil ujian. Sekolah juga perlu membantu peserta didik membangun keberanian, kemandirian, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.
Karena itu, guru perlu menciptakan kelas yang aman dari ejekan. Guru dapat memberi ruang diskusi kelompok kecil, kesempatan bertanya secara anonim, serta umpan balik yang menghargai proses belajar anak.
Baca selengkapnya: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak.
Dampak terhadap Kesehatan Psikologis dan Relasi Sosial
FoMO sering berkaitan dengan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Anak mungkin merasa hidupnya kurang menarik ketika melihat unggahan teman yang tampak sempurna. Perasaan tersebut dapat memunculkan iri hati, rasa kurang, kecemasan, atau ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Penelitian Rocco Servidio dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa perbandingan sosial dan harga diri berperan dalam hubungan antara FoMO dan penggunaan media sosial problematik.⁶ Temuan tersebut tidak berarti setiap pengguna media sosial akan mengalami masalah. Namun, temuan itu mengingatkan orang tua bahwa anak membutuhkan harga diri yang sehat dan lingkungan yang tidak hanya menilai popularitas.
Selain itu, penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat mengganggu waktu tidur. Anak yang terus memeriksa layar pada malam hari sering tidur lebih lambat. Kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, mengurangi kestabilan emosi, dan menghambat kesiapan belajar pada pagi hari.
WHO juga menemukan hubungan antara penggunaan media sosial problematik, waktu tidur yang lebih singkat, dan jam tidur yang lebih larut. Namun, WHO tetap menegaskan bahwa media sosial dapat memberi manfaat ketika remaja menggunakannya secara sehat dan tidak problematik. Remaja yang aktif, tetapi tetap mampu mengendalikan penggunaan media sosial, bahkan dapat memperoleh dukungan teman sebaya yang lebih kuat.⁷
Peran Orang Tua dalam Menghadapi FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja
Orang tua memegang peran utama dalam membantu anak mengelola pengalaman digitalnya. Pendampingan tidak harus berbentuk larangan keras. Orang tua justru perlu hadir sebagai pendengar yang aman, konsisten, dan mampu memberi arah.
Pertama, orang tua perlu membangun percakapan terbuka. Orang tua dapat bertanya, “Apa yang membuatmu merasa tertinggal?” atau “Mengapa kamu ragu ikut kegiatan itu?” Pertanyaan seperti ini membantu anak mengenali emosi dan pikirannya.
Kedua, keluarga perlu membuat kesepakatan digital bersama-sama. Kesepakatan dapat mengatur waktu belajar, waktu istirahat, penggunaan telepon pada malam hari, serta etika komunikasi di media sosial. Anak akan lebih bertanggung jawab ketika orang tua mengajaknya menyusun aturan.
Ketiga, orang tua perlu memberi teladan. Anak akan sulit menerima aturan penggunaan gawai apabila orang tua sendiri terus memeriksa telepon saat makan, berbicara, atau berkumpul bersama keluarga. Oleh karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan hadir secara utuh dalam interaksi nyata.
Keempat, orang tua perlu mengapresiasi proses anak. Jangan hanya memuji nilai tinggi, jumlah pengikut, atau prestasi yang terlihat. Sebaliknya, orang tua perlu menghargai keberanian anak bertanya, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan mengambil keputusan.
American Psychological Association menganjurkan pemantauan yang sesuai usia, percakapan rutin, pembinaan, dan dukungan orang dewasa selama anak menggunakan media sosial.⁸
| Strategi Pendampingan | Tindakan Orang Tua | Tujuan |
| Dialog rutin | Tanyakan pengalaman anak di media sosial | Anak merasa aman untuk bercerita |
| Kesepakatan digital | Tentukan waktu belajar, tidur, dan hiburan | Anak belajar disiplin serta tanggung jawab |
| Teladan penggunaan gawai | Simpan telepon saat makan dan berbicara | Anak melihat contoh perilaku digital sehat |
| Latihan mengambil keputusan | Bantu anak membatasi pilihan dan menentukan prioritas | Anak mengurangi kebingungan akibat FoBO |
| Apresiasi keberanian | Hargai usaha anak bertanya atau mengikuti kegiatan | Anak mengurangi rasa takut berpartisipasi |
Peran Sekolah dalam Mencegah Dampak Negatif
Sekolah perlu memperkuat literasi digital sebagai bagian dari pembelajaran. Literasi digital tidak hanya mengajarkan cara memakai teknologi. Literasi digital juga mengajarkan peserta didik untuk menilai informasi, memahami algoritma, mengelola jejak digital, menghormati orang lain, dan menjaga kesehatan mental.
Selain itu, guru perlu membangun budaya kelas yang aman. Guru dapat mencegah ejekan, penghinaan, dan komentar yang merendahkan. Lingkungan kelas yang aman membantu anak berani menyampaikan pendapat dan belajar dari kesalahan.
Guru BK juga dapat mengadakan layanan klasikal tentang penggunaan media sosial sehat, pengelolaan emosi, perbandingan sosial, dan pengambilan keputusan. Kemudian, sekolah dapat melibatkan orang tua melalui seminar parenting digital, forum wali murid, atau panduan penggunaan perangkat di rumah.
UNICEF Indonesia menekankan pentingnya literasi digital keluarga serta keterampilan seperti kepercayaan diri, empati, pengambilan keputusan, dan penyelesaian konflik untuk membangun ketahanan anak di ruang digital.⁹
Tanda yang Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius
Orang tua dan guru perlu mencari bantuan profesional apabila anak menunjukkan perubahan perilaku yang kuat dan berlangsung lama. Tanda tersebut dapat berupa sulit tidur secara terus-menerus, menarik diri dari keluarga, penurunan prestasi drastis, ledakan emosi yang sering, kecemasan berat, atau keengganan total untuk berinteraksi.
Selain itu, orang tua perlu segera bertindak apabila anak menunjukkan keinginan menyakiti diri, menerima perundungan daring, menjadi korban pemerasan digital, atau mengalami tekanan sosial yang berat. Dalam kondisi tersebut, keluarga dapat berkonsultasi dengan guru BK, konselor, psikolog, dokter, atau layanan kesehatan yang kompeten.
Pendampingan yang tepat tidak berfokus pada hukuman. Sebaliknya, pendampingan perlu membantu anak memahami masalah, membangun keterampilan regulasi diri, dan menemukan dukungan yang aman.
Kesimpulan
FoMO, FoBO, dan FoJO pada Anak dan Remaja merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua, guru, dan masyarakat. FoMO dapat mendorong anak terus memeriksa media sosial karena takut tertinggal. FoBO dapat membuat remaja sulit menentukan pilihan karena terus mencari opsi yang lebih baik. Sementara itu, FoJO dapat menghambat keberanian anak untuk bertanya, berkarya, dan berpartisipasi.
Ketiga fenomena tersebut dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kualitas tidur, relasi sosial, kepercayaan diri, serta pengambilan keputusan. Namun, media sosial bukan satu-satunya penyebab. Kondisi emosional anak, relasi keluarga, budaya pertemanan, lingkungan sekolah, dan desain platform digital juga ikut membentuk pengalaman mereka.
Pada akhirnya, keluarga dan sekolah perlu mengarahkan anak agar menggunakan teknologi secara sehat, sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Pendampingan yang kuat tidak bertujuan menjauhkan anak dari teknologi. Pendampingan bertujuan membantu anak mengendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kehidupannya.
baca juga : Mengapa Cyberbullying di Sekolah Sangat Berbahaya?
Rekomendasi
- Orang tua perlu membangun komunikasi rutin tentang pengalaman digital anak tanpa menghakimi.
- Keluarga perlu membuat kesepakatan penggunaan gawai yang realistis dan konsisten.
- Guru perlu menciptakan ruang kelas yang aman dari ejekan dan perundungan.
- Sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital, pengelolaan emosi, dan etika bermedia dalam pembelajaran.
- Orang tua dan sekolah perlu segera mencari bantuan profesional ketika anak mengalami tekanan psikologis yang serius.
Catatan Kaki
- World Health Organization Regional Office for Europe, A Focus on Adolescent Social Media Use and Gaming in Europe, Central Asia and Canada: Health Behaviour in School-aged Children International Report from the 2021/2022 Survey, vol. 6 (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2024).
- Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, dan Valerie Gladwell, “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out,” Computers in Human Behavior 29, no. 4 (2013): 1841–1848, https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014.
- Boyan Ivanchev, “Fear of Missing Out (FoMO) and Fear of a Better Option (FoBO): Psychological Nature and Effects on Financial Market Participants,” Yearbook of the Faculty of Economics and Business Administration, Sofia University 21, no. 1 (2022): 73–106.
- UNICEF, “How Social Media Keeps Children’s Attention,” diakses 4 Juli 2026.
- Michelle Pazdur, Dunja Tutus, dan Ann-Christin Haag, “Risk Factors for Problematic Social Media Use in Youth: A Systematic Review of Longitudinal Studies,” Adolescent Research Review 10 (2025): 237–253.
- Rocco Servidio, Paolo Soraci, Mark D. Griffiths, Stefano Boca, dan Zsolt Demetrovics, “Fear of Missing Out and Problematic Social Media Use: A Serial Mediation Model of Social Comparison and Self-Esteem,” Addictive Behaviors Reports 19 (2024): 100536, https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536.
- World Health Organization Regional Office for Europe, “Teens, Screens and Mental Health,” 25 September 2024.
- American Psychological Association, Health Advisory on Social Media Use in Adolescence (Washington, DC: American Psychological Association, 2023).
- UNICEF Indonesia, Our Lives Online: Use of Social Media by Children and Adolescents in East Asia (Jakarta: UNICEF Indonesia, 2019).
Daftar Pustaka
American Psychological Association. Health Advisory on Social Media Use in Adolescence. Washington, DC: American Psychological Association, 2023.
Ivanchev, Boyan. “Fear of Missing Out (FoMO) and Fear of a Better Option (FoBO): Psychological Nature and Effects on Financial Market Participants.” Yearbook of the Faculty of Economics and Business Administration, Sofia University 21, no. 1 (2022): 73–106.
Pazdur, Michelle, Dunja Tutus, dan Ann-Christin Haag. “Risk Factors for Problematic Social Media Use in Youth: A Systematic Review of Longitudinal Studies.” Adolescent Research Review 10 (2025): 237–253.
Przybylski, Andrew K., Kou Murayama, Cody R. DeHaan, dan Valerie Gladwell. “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out.” Computers in Human Behavior 29, no. 4 (2013): 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014.
Servidio, Rocco, Paolo Soraci, Mark D. Griffiths, Stefano Boca, dan Zsolt Demetrovics. “Fear of Missing Out and Problematic Social Media Use: A Serial Mediation Model of Social Comparison and Self-Esteem.” Addictive Behaviors Reports 19 (2024): 100536. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2024.100536.
UNICEF. “How Social Media Keeps Children’s Attention.” Diakses 4 Juli 2026.
UNICEF Indonesia. Our Lives Online: Use of Social Media by Children and Adolescents in East Asia. Jakarta: UNICEF Indonesia, 2019.
World Health Organization Regional Office for Europe. A Focus on Adolescent Social Media Use and Gaming in Europe, Central Asia and Canada: Health Behaviour in School-aged Children International Report from the 2021/2022 Survey. Vol. 6. Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2024.
World Health Organization Regional Office for Europe. “Teens, Screens and Mental Health.” 25 September 2024.
