Oleh : Azizun Hakim Assalis, S.Sos., M.Pd.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah terlepas dengan yang namanya interaksi, dimanapun manusia berada pasti bersinggungan dengan manusia lainya dan melakuakn interaksi bahkan disaat manuisa berada seorang diripun dapat melakukan interaksi melalui alat komunikasi.
Sesuai dengan tema yang akan di angkat dalam narasi kali ini, penulis mencoba menjelaskan secara sederhana mengenai teatrikal yang di jalani dalam setiap masing masing individu secara sederhana dan tentunya masih banyak kekurangan yang bisa untuk di sempurnakan dalam tulisan ini.
Setiap individu manusia menjalankan berbagai peran yang diperankan sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi, baik sebagai seorang guru,murid,orang tua,anak,pemimpin, atau peran seagai anggota masayrakat dan lainya. Menariknya bahkan seorang manusia bisa menjadi orang lainya dengan karakter yang berbeda dengan sebelumnya, dan hal itu semua dapat dianalogikan seperti halnya seorang aktor yang sedang memainkan peran diatas panggung. Analogi seperti ini dikemukakakn oleh seorang tokoh sosiolog yang bernama Erving Goffman melalui teori yang dikenal dengan seutan Teori Dramaturgi.
Menurut Goffman dalam bukunya The Presentation Of Self In Everyday Life (1969) kehiupan sosial menyerupai sebuah pertunjukan teater, manusia sebagai individu berusaha menampilakn kesan tertentu kepada orang lain melalui cara berbicara, bahkan mengekspresikan sebuah emosi. Dengan kata lain manusia memerankan peran sentral dalam panggung kehidupanya agar dapat memperoleh sebuah afirmatif atau sebuah penilain dari lingkungan sosialnya.
Teori Dramaturgi ini menjelaskan setiap interkasi yang dilakukan adalah merupakan sebuah proses “pertunjukan” yang dilakukan individu untuk mengelola kesan (impression management), dalam sebuah panggung pertunjukan tersebut terdapat dua wilayah utama yaitu front stage (depan panggung) dan Back Stage (belakang panggung). Di dalam dua wilayah itu manusia juga memerankan peran yang bereda.
Front stage merupakan sebuah situasi dimana seseorang sedang berada di hadapan halayak umum dan menampilkan sebuah perilaku yang sesuai dengan harapan sosial. Pada wilayah ini individu berusaha untuk menampilkan citra diri agar terlihat profesional, sopan, atau yang sesuai dengan peran yang sedang di jalankan. Di era perkemangan zaman saat ini front stage semakin mudah di temukan. Banyak orang mempublikasi dirinya dengan fersi terbaik untuk membangun sebuah identitas di hadapan lingkungan sosialnya
Berbeda dengan front stage, back stage merupakan wilayah pribadi dari seuah aktor dimana seseorang tidak lagi dituntut untuk mempertahankan personal emage sosialnya. Pada wilayah ini seorang individu lebih menjadi seseorang yang natural tanpa mengharap penilaian dari lingkungan sosialnya. Seagai contoh seseorang tokoh pulik yang harus tampil penuh semangat dan ceria di halayak umum, belum tentu memiliki kondisi yang sama ketika berada di lingkungan keluarganya, bisa jadi menampilkan sebuah emosional yang berbeda ketika berada dirumah. Dalam hal ini back stage menunjukan bahwasanya manusia sebagai aktor memiliki sisi pribadi yang tidak di perlihatkan kepada publik sosialnya, dan menunjukan bahwa setiap peran sosial memiliki tuntutan dan norma yang berbeda.
Dalam perspektif teori ini, manusia juga tidak menjadi aktor dengan perilaku tindakan sosial yang ia lakukan, tetapi manusia juga memerankan sebagai sutradara bagi dirinya sendiri. Sebagai contoh, manusia bisa memilih bagaiman cara berpakaian,berbicara dan bahkan bertindak atau bersikap. Oleh karena itu satu orang dapat memainkan banyak peran sekaligus dalam satu waktu
Kemajuan teknologi informasi saat ini, membuat konsep dramaturgi ini semakin relevan. Mengapa demikian, media sosial menjadi tempat atau menjadi sebuah panggung baru masyarakat modern, manusia secara sadar memilih foto terbaik, memperlihatkan pencapainya atau membagikan aktivitasnya untuk membangun sebuah citra dirinya di hadapan publik digital. Namun demikian,kehidupan yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan sebuah kondisi sebenarnya. Di balik layar setiap individu tetap memiliki sisi kehidupan lain secara pribadi seperti halnya bagaimana persoalan yang sedang di hadapi. Oleh sebab itu masyarakat perlu lebih bijak lagi dalam memahami apa saja yang tampak di wilayah front stage, hal itu hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kehdidupan seseorang
Bisa di simpulkan bahwa teori dramaturg ini memberikan pemahaman konsep bahwa kehidupan sosial merupakan sebuah panggung tempat manusa memainkan sebuah peran, melalui konsep front stage dan back stage kita dapat memahami bahwa setiap individu berusaha memainkan peran dalam sebuah lakon terbaiknya, sementara itu dalam ruang privat merka dapat menunjukan peran diri yang lebih natural dan autentik. Sebagai makhluk sosial, manusia akan terus memainkan peran sepanjang hidupnya. Oleh karena itu yang utama bukan hanya bagaimana seseorang tampil di panggung depan saja, melainkan bagaimana juga ia mampu untuk menjaga sebuah integritas relasi antara ranah publik dan domestiknya.ik dan domestiknya.
