Keluarga merupakan ruang pendidikan pertama bagi setiap anak. Di rumah, anak belajar mengenali rasa aman, kasih sayang, aturan, tanggung jawab, cara menyampaikan pendapat, hingga cara mengelola emosi. Karena itu, peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak tidak hanya terlihat ketika anak mengalami masalah besar. Orang tua membangun peran tersebut melalui kebiasaan sederhana., seperti mendengarkan cerita anak, memberi batasan yang jelas, menggunakan kata-kata yang baik, dan memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik.
Kesehatan mental anak tidak sebatas berarti anak selalu ceria atau tidak pernah menangis. Anak yang sehat secara mental mampu mengenali emosi, beradaptasi terhadap tekanan, membangun hubungan yang sehat, belajar dengan lebih fokus, serta meminta bantuan ketika menghadapi masalah. Masa anak-anak dan remaja juga menjadi fase penting karena otak, kemampuan sosial, dan keterampilan emosional berkembang sangat cepat. Lingkungan rumah yang penuh ketegangan, kekerasan, atau penghinaan dapat meningkatkan risiko masalah psikologis pada masa berikutnya.¹
Dalam kehidupan sehari-hari, peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak terlihat dari cara orang tua membangun komunikasi, menetapkan aturan, dan merespons kesalahan anak dengan tenang.
Dalam praktik pengasuhan, orang tua sering menghadapi situasi yang menguras kesabaran. Anak tidak segera mandi, sulit berhenti bermain gawai, menolak belajar, membantah, atau melakukan kesalahan berulang. Kondisi tersebut dapat memicu bentakan. Namun, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “apakah orang tua boleh marah?”, melainkan “bagaimana cara marah tanpa melukai harga diri dan kesehatan mental anak?”
Kesehatan Mental Anak Dimulai dari Rasa Aman di Rumah
Anak membutuhkan rumah sebagai tempat pulang secara fisik dan emosional. Ia perlu merasa bahwa dirinya tetap dicintai, meskipun melakukan kesalahan. Rasa aman ini bukan berarti orang tua membiarkan semua perilaku anak. Rasa aman berarti anak memahami bahwa aturan tetap berlaku, tetapi Orang tua tetap memberi koreksi tanpa penghinaan, ancaman, atau pelabelan yang merendahkan.
Orang tua yang hadir secara emosional membantu anak memahami perasaannya. Ketika anak kecewa, marah, takut, atau malu, ia membutuhkan orang dewasa yang mampu berkata, “Kamu sedang marah, ya? Mari kita tenang dulu, lalu kita bicarakan.” Kalimat sederhana seperti ini mengajarkan anak bahwa emosi adalah hal wajar, tetapi tetap harus dikelola secara bertanggung jawab.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa pola asuh, cara berkomunikasi, dan pendekatan disiplin di keluarga berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Pola asuh yang terlalu menekan dapat membuat anak menjadi penakut, kurang percaya diri, mudah marah, serta mengalami kesulitan mengendalikan emosi.²
Orang tua dapat menjaga kesehatan mental anak melalui lima kebiasaan utama berikut.
| Kebiasaan Orang Tua | Dampak Positif bagi Anak |
|---|---|
| Mendengarkan tanpa langsung menghakimi | Anak lebih terbuka dan percaya kepada orang tua |
| Membuat aturan yang konsisten | Anak memahami batas perilaku dan tanggung jawab |
| Memberi pujian yang spesifik | Anak memahami perilaku positif yang perlu diulang |
| Mengoreksi perilaku, bukan menyerang pribadi | Harga diri anak tetap terjaga |
| Menjadi teladan dalam mengelola emosi | Anak belajar menyelesaikan masalah dengan cara sehat |
Contoh koreksi yang tepat adalah, “Tugasmu belum selesai, mari kita selesaikan sekarang.” Sebaliknya, kalimat seperti “Kamu memang malas dan tidak bisa diandalkan” menyerang identitas anak. Anak tidak lagi hanya merasa telah melakukan kesalahan, tetapi dapat mulai meyakini bahwa dirinya adalah anak yang buruk.
Mengapa Orang Tua Tidak Boleh Membentak Anak?
Membentak sering dianggap sebagai cara tercepat agar anak patuh. Dalam jangka pendek, anak mungkin berhenti berbicara, menangis, diam, atau langsung melakukan perintah. Namun, kepatuhan yang lahir dari rasa takut berbeda dengan kedisiplinan yang lahir dari kesadaran.
Bentakan yang berulang, intimidatif, mempermalukan, mengancam, atau disertai kata-kata seperti “bodoh”, “malas”, “memalukan”, dan “tidak berguna” dapat masuk ke dalam bentuk disiplin verbal keras. Bentuk komunikasi ini tidak membantu anak memahami kesalahannya secara mendalam. Anak justru dapat lebih fokus pada rasa takut, malu, atau marah terhadap orang tua.
Penelitian longitudinal oleh Ming-Te Wang dan Sarah Kenny terhadap 976 keluarga menemukan bahwa disiplin verbal keras dari ayah maupun ibu pada usia 13 tahun berkaitan dengan peningkatan masalah perilaku dan gejala depresi pada anak usia 14 tahun. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan dua arah: perilaku bermasalah anak dapat memicu bentakan orang tua, tetapi bentakan yang keras juga dapat memperburuk masalah perilaku dan suasana emosional anak.³
Temuan ini penting bagi orang tua. Anak yang sering membantah atau sulit diatur memang membutuhkan batasan yang lebih tegas. Namun, ketegasan tidak harus berubah menjadi kekerasan verbal. Orang tua dapat tetap tegas melalui aturan, konsekuensi yang logis, rutinitas, dan komunikasi yang konsisten.
UNICEF juga menekankan bahwa teriakan dan kekerasan fisik tidak menjadi strategi disiplin yang efektif dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut dapat menciptakan stres berkepanjangan, sementara disiplin positif lebih berfokus pada hubungan sehat, ekspektasi perilaku yang jelas, serta pembentukan tanggung jawab dan pengendalian diri anak.⁴
Bentakan Sesaat dan Kekerasan Verbal Berulang Tidak Sama
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi orang tua yang pernah terpancing emosi. Hampir setiap orang tua dapat mengalami kelelahan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, beban pekerjaan, atau stres pengasuhan. Satu kejadian suara meninggi tidak otomatis membuat anak mengalami gangguan mental atau kerusakan otak.
Namun, orang tua perlu waspada apabila bentakan menjadi pola yang berulang. Risiko menjadi lebih besar ketika bentakan berisi penghinaan, ancaman, penolakan, pembandingan dengan saudara atau teman, serta pelabelan negatif terhadap anak.
| Bentakan yang Perlu Dihindari | Kalimat Tegas yang Lebih Sehat |
| “Kamu bodoh sekali!” | “Jawaban ini masih kurang tepat. Mari kita pelajari lagi.” |
| “Dasar pemalas!” | “Kamu belum memulai tugas. Sekarang kita buat jadwal agar selesai.” |
| “Jangan bikin Mama malu!” | “Perilaku tadi kurang tepat. Kamu perlu meminta maaf dan memperbaikinya.” |
| “Kamu tidak pernah bisa diandalkan!” | “Saya butuh kamu bertanggung jawab pada tugas yang sudah disepakati.” |
| “Diam! Jangan membantah!” | “Saya mau mendengar pendapatmu setelah kamu berbicara dengan tenang.” |
Perbedaan utama terletak pada sasaran komunikasi. Bentakan menyerang pribadi anak. Disiplin positif mengoreksi perilaku anak.
Apakah Membentak Anak Berpengaruh terhadap Otak dan Kecerdasan?
Kita perlu menjawab pertanyaan tentang pengaruh bentakan terhadap otak anak dengan hati-hati. Tidak tepat menyimpulkan bahwa satu kali bentakan langsung “merusak otak” anak atau otomatis membuat kecerdasan anak menurun. Penelitian ilmiah tidak mendukung klaim sesederhana itu.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan kekerasan verbal yang berat dan berulang pada masa perkembangan berkaitan dengan perubahan pada fungsi maupun struktur otak. Penelitian neuroimaging oleh Akemi Tomoda dan kolega menemukan adanya hubungan antara paparan agresi verbal orang tua pada masa kanak-kanak dengan perbedaan volume materi abu-abu pada bagian superior temporal gyrus, area otak yang berkaitan dengan pemrosesan bahasa dan suara. Penelitian ini bersifat observasional dan memakai sampel terbatas. Karena itu, peneliti tidak dapat memakai temuan tersebut untuk menyatakan bahwa semua bentakan pasti menimbulkan perubahan otak yang sama pada setiap anak.⁵
Artinya, Kita lebih tepat memahami penelitian tersebut sebagai peringatan bahwa lingkungan verbal yang kasar dan terus-menerus dapat menciptakan pengalaman stres yang serius bagi anak. Anak yang hidup dalam suasana ancaman dapat lebih mudah waspada, takut salah, sulit tenang, atau menafsirkan nada bicara orang lain sebagai ancaman.
Dalam konteks kecerdasan, istilah yang lebih tepat bukan “membentak menurunkan IQ secara langsung.” Bentakan yang keras dan berulang dapat mengganggu kemampuan anak dalam berkonsentrasi, mengingat, mengendalikan diri, bertanya, dan mengambil keputusan, seperti konsentrasi, memori kerja, pengendalian diri, keberanian bertanya, motivasi belajar, dan kemampuan mengambil keputusan.
Meta-analisis tahun 2025 terhadap 59 penelitian menemukan bahwa pengalaman maltreatment pada masa kanak-kanak berkaitan dengan defisit fungsi eksekutif, seperti kontrol inhibisi, fleksibilitas kognitif, dan memori kerja. Akan tetapi, penelitian ini membahas pengalaman maltreatment secara luas, bukan bentakan semata. Karena itu, Kita tidak boleh memakai hasil penelitian tersebut untuk menyimpulkan bahwa setiap anak yang pernah dibentak pasti mengalami penurunan kemampuan kognitif.⁶
Dengan demikian, kesimpulan yang lebih ilmiah adalah sebagai berikut: bentakan berulang dan kekerasan verbal dapat meningkatkan risiko masalah emosi dan perilaku; stres yang terus-menerus dapat mengganggu kemampuan belajar; tetapi Banyak faktor memengaruhi dampak bentakan pada setiap anak, termasuk frekuensi, intensitas, usia anak, dukungan keluarga, hubungan dengan orang tua, kondisi sekolah, dan faktor perlindungan lainnya.
Penelitian tentang Dampak Jangka Panjang Kekerasan Verbal
Penelitian terbaru dari Bellis dan rekan-rekan pada tahun 2025 menganalisis data lebih dari 20.000 responden dewasa di Inggris dan Wales. Hasilnya menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan verbal pada masa kanak-kanak berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan kesejahteraan mental yang rendah ketika dewasa. Para peneliti tetap menemukan hubungan tersebut ketika mereka menganalisis kekerasan verbal secara terpisah dari kekerasan fisik.⁷
Temuan tersebut tidak berarti semua anak yang pernah mendapat kata-kata kasar akan tumbuh dengan masalah mental. Banyak anak dapat pulih, terutama ketika memperoleh dukungan dari orang tua, guru, keluarga besar, sahabat, dan tenaga profesional. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa kata-kata orang dewasa memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan.
Anak cenderung mempercayai ucapan orang tua. Ketika berulang kali mendengar dirinya disebut bodoh, nakal, tidak berguna, atau menyusahkan, anak dapat mulai membentuk konsep diri yang negatif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri, relasi sosial, keberanian mencoba, dan kemampuan menghadapi kegagalan.
Karena itu, peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak bukan hanya memastikan anak makan, sekolah, dan tidur cukup. Orang tua juga perlu menjaga kualitas bahasa yang mereka gunakan di rumah.
Cara Mendisiplinkan Anak Tanpa Membentak
Disiplin positif bukan berarti membiarkan anak bebas tanpa aturan. Disiplin positif justru menuntut orang tua untuk lebih konsisten, lebih sabar, dan lebih jelas dalam memberi arahan.
Orang tua dapat menerapkan langkah praktis berikut.
1. Tenangkan Diri Sebelum Memberi Konsekuensi
Saat emosi naik, jangan langsung memberi hukuman. Beri jeda beberapa menit. Tarik napas, minum air, atau menjauh sebentar dari situasi selama anak berada dalam kondisi aman. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi membutuhkan orang tua yang mampu memperbaiki cara merespons emosi.
2. Gunakan Instruksi yang Singkat dan Spesifik
Kalimat “Jangan nakal!” terlalu umum. Anak mungkin tidak memahami perilaku yang harus diperbaiki. Gunakan instruksi yang jelas, misalnya, “Simpan ponselmu pukul delapan malam,” atau “Setelah makan, letakkan piring di dapur.”
UNICEF merekomendasikan orang tua menyampaikan apa yang perlu dilakukan anak secara jelas, bukan hanya menyebut larangan. Instruksi yang spesifik membantu anak memahami harapan orang tua secara lebih konkret.⁸
3. Bedakan Perilaku Anak dengan Identitas Anak
Katakan, “Perbuatanmu tadi salah,” bukan “Kamu anak yang buruk.” Cara ini menjaga harga diri anak sekaligus tetap menunjukkan bahwa perilakunya perlu diperbaiki.
4. Terapkan Konsekuensi yang Logis
Konsekuensi harus berkaitan dengan perilaku. Misalnya, jika anak tidak merapikan mainan, waktu bermain berikutnya ditunda sampai ia menyelesaikan tanggung jawabnya. Hindari hukuman yang tidak relevan, seperti melarang anak makan atau mempermalukannya di depan orang lain.
5. Ajarkan Anak Memberi Nama pada Emosinya
Anak perlu belajar mengenali apa yang dirasakan. Orang tua dapat berkata, “Kamu kecewa karena permainanmu selesai, ya?” atau “Kamu marah karena belum boleh membeli sesuatu.” Kementerian Kesehatan menganjurkan orang tua membantu anak mengenali emosi, mengungkapkan perasaan, serta mempelajari teknik relaksasi sederhana.⁹
6. Perbaiki Hubungan Setelah Konflik
Apabila orang tua terlanjur membentak, lakukan perbaikan. Minta maaf bukan berarti wibawa orang tua hilang. Sebaliknya, anak belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas ucapannya.
Contohnya: “Tadi Ayah berbicara terlalu keras. Ayah minta maaf. Aturannya tetap berlaku, tetapi Ayah seharusnya menyampaikannya dengan lebih baik.”
Kalimat tersebut mengajarkan dua hal sekaligus: kesalahan tetap perlu diperbaiki, dan hubungan keluarga harus dijaga.
Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Orang tua perlu mempertimbangkan bantuan psikolog, konselor, dokter, atau tenaga kesehatan jiwa apabila anak menunjukkan perubahan yang menetap, seperti sangat menarik diri, sulit tidur, perubahan makan yang ekstrem, sering menangis tanpa sebab jelas, mudah marah, ketakutan berlebihan, penurunan prestasi yang tajam, atau mengucapkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
Perubahan perilaku tidak selalu berarti anak mengalami gangguan mental. Namun, Orang tua perlu memberi perhatian serius pada perubahan yang berlangsung lama dan mengganggu belajar, pergaulan, atau kehidupan keluarga anak. Dukungan profesional bukan tanda kegagalan orang tua. Dukungan tersebut adalah bentuk tanggung jawab untuk melindungi anak.
Oleh karena itu, Orang tua perlu mewujudkan perannya dalam menjaga kesehatan mental anak melalui disiplin positif, kehangatan emosional, dan keteladanan dalam mengelola amarah.
Kesimpulan
Peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun akademik. Anak membutuhkan kasih sayang, aturan yang jelas, komunikasi yang aman, dan teladan pengelolaan emosi dari orang dewasa di sekitarnya.
Membentak memang dapat membuat anak patuh sesaat, tetapi tidak selalu membantu anak memahami tanggung jawabnya. Penelitian menunjukkan bahwa disiplin verbal yang keras dan berulang berkaitan dengan risiko masalah emosi, perilaku, serta kesejahteraan mental yang lebih rendah pada masa berikutnya. Bukti ilmiah juga mengarah pada kemungkinan pengaruh pengalaman verbal yang kasar terhadap perkembangan fungsi otak, meskipun tidak tepat menyederhanakan temuan tersebut menjadi klaim bahwa satu bentakan langsung merusak otak atau menurunkan kecerdasan anak.
Orang tua tetap dapat bersikap tegas tanpa merendahkan anak. Orang tua perlu mengoreksi perilaku anak, bukan merendahkan harga dirinya. Orang tua perlu menegakkan aturan sambil tetap menjaga hubungan emosional dengan anak. Sebab, rumah yang sehat bukan rumah tanpa konflik, melainkan rumah yang mampu menyelesaikan konflik dengan kasih sayang, tanggung jawab, dan saling menghormati.
Catatan Kaki
- World Health Organization, “Improving the Mental and Brain Health of Children and Adolescents,” diakses 5 Juli 2026.
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Pengaruh Parenting pada Kesehatan Mental Anak,” 8 Oktober 2024.
- Ming-Te Wang dan Sarah Kenny, “Longitudinal Links Between Fathers’ and Mothers’ Harsh Verbal Discipline and Adolescents’ Conduct Problems and Depressive Symptoms,” Child Development 85, no. 3 (2014): 908–923, https://doi.org/10.1111/cdev.12143.
- UNICEF, “How to Discipline Your Child the Smart and Healthy Way,” UNICEF Parenting, diakses 5 Juli 2026.
- Akemi Tomoda et al., “Exposure to Parental Verbal Abuse Is Associated with Increased Gray Matter Volume in Superior Temporal Gyrus,” NeuroImage 54, supl. 1 (2011): S280–S286, https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2010.05.027.
- A. Perevoznikova et al., “Maltreatment and Executive Functioning in Childhood and Adolescence: A Meta-Analysis,” Child Abuse & Neglect 163 (2025): 107663, https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2025.107663.
- Mark A. Bellis et al., “Comparative Relationships Between Physical and Verbal Abuse of Children, Life Course Mental Well-Being and Trends in Exposure: A Multi-Study Secondary Analysis of Cross-Sectional Surveys in England and Wales,” BMJ Open 15, no. 8 (2025): e098412, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-098412.
- UNICEF, “How to Discipline Your Child the Smart and Healthy Way.”
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Melatih Pengelolaan Emosi pada Anak,” 24 Januari 2024.
Daftar Pustaka
Bellis, Mark A., Karen Hughes, Kat Ford, Zara Quigg, Nadia Butler, dan Charley Wilson. “Comparative Relationships Between Physical and Verbal Abuse of Children, Life Course Mental Well-Being and Trends in Exposure: A Multi-Study Secondary Analysis of Cross-Sectional Surveys in England and Wales.” BMJ Open 15, no. 8 (2025): e098412. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-098412.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Melatih Pengelolaan Emosi pada Anak.” 24 Januari 2024.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Pengaruh Parenting pada Kesehatan Mental Anak.” 8 Oktober 2024.
Perevoznikova, A., et al. “Maltreatment and Executive Functioning in Childhood and Adolescence: A Meta-Analysis.” Child Abuse & Neglect 163 (2025): 107663. https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2025.107663.
Tomoda, Akemi, Yi-Shin Sheu, Keren Rabi, Hanako Suzuki, Carryl P. Navalta, Ann Polcari, dan Martin H. Teicher. “Exposure to Parental Verbal Abuse Is Associated with Increased Gray Matter Volume in Superior Temporal Gyrus.” NeuroImage 54, supl. 1 (2011): S280–S286. https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2010.05.027.
UNICEF. “How to Discipline Your Child the Smart and Healthy Way.” UNICEF Parenting. Diakses 5 Juli 2026.
Wang, Ming-Te, dan Sarah Kenny. “Longitudinal Links Between Fathers’ and Mothers’ Harsh Verbal Discipline and Adolescents’ Conduct Problems and Depressive Symptoms.” Child Development 85, no. 3 (2014): 908–923. https://doi.org/10.1111/cdev.12143.
World Health Organization. WHO Guidelines on Parenting Interventions to Prevent Maltreatment and Enhance Parent–Child Relationships with Children Aged 0–17 Years. Geneva: World Health Organization, 2023.
World Health Organization. “Improving the Mental and Brain Health of Children and Adolescents.” Diakses 5 Juli 2026.
