Penulis: M. Mujadid Al Kautsar, S.Pd.
ABSTRAK
Secara umum, Biologi mengajarkan siswa memahami kehidupan dan hubungan antarmakhluk hidup. Melalui Biologi, guru dapat mengajak siswa membaca fakta, menafsirkan data, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran Biologi di Madrasah Aliyah tidak cukup berhenti pada hafalan istilah atau definisi.
Materi perubahan lingkungan sangat relevan dengan kehidupan siswa. Dalam keseharian, mereka melihat sampah plastik di sekitar sekolah, perubahan kualitas air, berkurangnya ruang hijau, dan perilaku manusia yang merusak lingkungan. Selain itu, mereka menerima banyak informasi tentang pencemaran dan perubahan iklim dari media sosial. Namun, tidak semua siswa mampu membedakan informasi ilmiah dan opini yang tidak berdasar.
Kebutuhan untuk memperkuat literasi sains tampak jelas dalam data PISA 2022. OECD melaporkan bahwa hanya 34 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 76 persen. Pada level minimum tersebut, siswa dapat mengenali penjelasan ilmiah atas fenomena yang familier dan menilai kesimpulan sederhana berdasarkan data.
Data tersebut menunjukkan tantangan penting bagi guru Biologi. Oleh sebab itu, pembelajaran perlu membantu siswa menjelaskan fenomena, membaca bukti, dan menyusun solusi. Pada saat yang sama, guru juga perlu menumbuhkan sikap peduli agar pengetahuan sains tidak berhenti sebagai materi ujian.
Kurikulum Berbasis Cinta atau Kurikulum Cinta memberi arah yang kuat bagi madrasah. Panduan Kementerian Agama menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Cinta di madrasah menjadi langkah strategis untuk membentuk karakter murid yang berlandaskan kasih sayang, kepedulian, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Biologi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi cinta ilmu, cinta lingkungan, dan tanggung jawab menjaga ciptaan Allah.
Selain itu, Panduan Kurikulum Cinta juga menempatkan madrasah ramah lingkungan sebagai salah satu indikator penting. Madrasah tidak hanya mengajarkan teori pelestarian lingkungan, tetapi juga membangun budaya dan praktik ramah lingkungan secara konsisten. Prinsip ini sangat dekat dengan materi perubahan lingkungan.
Pembelajaran mendalam dapat menjadi pendekatan yang menghubungkan konsep Biologi, pengalaman nyata, dan nilai cinta lingkungan. Panduan Pembelajaran dan Asesmen menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam dirancang untuk mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi, penerapan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan demikian, guru Biologi di Madrasah Aliyah Syarifuddin dapat mengembangkan pembelajaran yang aktif, reflektif, dan bernilai. Dalam praktiknya, siswa dapat diajak mengamati masalah lingkungan, mengolah data, membuat proyek, dan menulis refleksi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan literasi sains dan kepedulian lingkungan siswa.
Kata kunci: pembelajaran mendalam, Kurikulum Cinta, literasi sains, kepedulian lingkungan, perubahan lingkungan, Biologi MA.
BAB I PENDAHULUAN
Biologi mengajarkan siswa memahami kehidupan dan hubungan antarmakhluk hidup. Melalui Biologi, guru dapat mengajak siswa membaca fakta, menafsirkan data, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran Biologi di Madrasah Aliyah tidak cukup berhenti pada hafalan istilah atau definisi.
Materi perubahan lingkungan sangat relevan dengan kehidupan siswa. Siswa melihat sampah plastik di sekitar sekolah, perubahan kualitas air, berkurangnya ruang hijau, dan perilaku manusia yang merusak lingkungan. Mereka juga menerima banyak informasi tentang pencemaran dan perubahan iklim dari media sosial. Namun, tidak semua siswa mampu membedakan informasi ilmiah dan opini yang tidak berdasar.
Kebutuhan untuk memperkuat literasi sains tampak jelas dalam data PISA 2022. OECD melaporkan bahwa hanya 34 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 76 persen. Pada level minimum tersebut, siswa dapat mengenali penjelasan ilmiah atas fenomena yang familier dan menilai kesimpulan sederhana berdasarkan data.[1]
Data tersebut menunjukkan tantangan penting bagi guru Biologi. Guru perlu membangun pembelajaran yang membantu siswa menjelaskan fenomena, membaca bukti, dan menyusun solusi. Guru juga perlu menumbuhkan sikap peduli agar pengetahuan sains tidak berhenti sebagai materi ujian.
Kurikulum Berbasis Cinta atau Kurikulum Cinta memberi arah yang kuat bagi madrasah. Panduan Kementerian Agama menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Cinta di madrasah menjadi langkah strategis untuk membentuk karakter murid yang berlandaskan kasih sayang, kepedulian, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Biologi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi cinta ilmu, cinta lingkungan, dan tanggung jawab menjaga ciptaan Allah.[2]
Panduan Kurikulum Cinta juga menempatkan madrasah ramah lingkungan sebagai salah satu indikator penting. Madrasah tidak hanya mengajarkan teori pelestarian lingkungan, tetapi juga membangun budaya dan praktik ramah lingkungan secara konsisten. Prinsip ini sangat dekat dengan materi perubahan lingkungan.[3]
Pembelajaran mendalam dapat menjadi pendekatan yang menghubungkan konsep Biologi, pengalaman nyata, dan nilai cinta lingkungan. Panduan Pembelajaran dan Asesmen menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam dirancang untuk mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi, penerapan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.[4]
Dengan demikian, guru Biologi di Madrasah Aliyah Syarifuddin dapat mengembangkan pembelajaran yang aktif, reflektif, dan bernilai. Guru dapat mengajak siswa mengamati masalah lingkungan, mengolah data, membuat proyek, dan menulis refleksi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan literasi sains dan kepedulian lingkungan siswa.
B. Identifikasi Masalah
- Sebagian siswa masih memahami materi perubahan lingkungan sebagai hafalan konsep.
- Sebagian siswa belum terbiasa membaca data lingkungan dan menyusun argumen ilmiah.
- Pembelajaran Biologi belum selalu menghubungkan konsep sains dengan nilai cinta lingkungan.
- Kegiatan proyek lingkungan perlu dirancang lebih sistematis agar menghasilkan produk dan perubahan sikap.
- Guru memerlukan model implementasi pembelajaran mendalam yang sesuai dengan konteks madrasah.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pembelajaran mendalam berbasis Kurikulum Cinta pada materi perubahan lingkungan di MA?
2. Bagaimana langkah implementasi pembelajaran tersebut dalam pembelajaran Biologi?
3. Bagaimana pembelajaran tersebut dapat memperkuat literasi sains dan kepedulian lingkungan siswa?
D. Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan konsep pembelajaran mendalam berbasis Kurikulum Cinta pada pembelajaran Biologi MA.
2. Merumuskan langkah implementasi pembelajaran pada materi perubahan lingkungan.
3. Menyusun rancangan instrumen untuk mengukur literasi sains dan kepedulian lingkungan siswa.
4. Memberikan model praktik baik yang dapat digunakan guru Biologi di madrasah.
E. Manfaat Penulisan
1. Bagi guru, naskah ini memberi contoh desain pembelajaran Biologi yang aktif, kontekstual, dan bernilai.
2. Bagi siswa, naskah ini mendukung pengalaman belajar yang membantu mereka memahami konsep dan membangun kepedulian lingkungan.
3. Bagi madrasah, naskah ini dapat menjadi dokumen praktik baik implementasi Kurikulum Cinta.
4. Bagi peneliti pendidikan, naskah ini dapat menjadi rujukan awal untuk PTK atau penelitian eksperimen sederhana.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran mendalam menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang aktif. Siswa tidak hanya menerima informasi dari guru. Siswa menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman, masalah nyata, dan nilai yang hidup dalam lingkungannya.
Dalam panduan Kemendikdasmen, pembelajaran mendalam menuntut pengalaman belajar autentik, praktik nyata, keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan kolaborasi. Prinsip ini menegaskan bahwa guru perlu merancang aktivitas yang membuat siswa berpikir, bekerja sama, dan menghasilkan solusi.[5]
Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen memandang deep learning sebagai pembelajaran yang membangun kompetensi global melalui pemecahan masalah nyata dan perubahan peran guru menjadi perancang pengalaman belajar. Gagasan ini relevan dengan pembelajaran Biologi karena banyak masalah lingkungan menuntut kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.[6]
John Hattie juga menegaskan pentingnya dampak pembelajaran yang terlihat. Guru perlu membuat tujuan belajar jelas, memberi umpan balik, dan memantau bukti kemajuan siswa. Dalam KTI ini, prinsip tersebut diterapkan melalui pretest, posttest, rubrik proyek, observasi, dan jurnal refleksi.[7]
B. Kurikulum Cinta dalam Konteks Madrasah
Kurikulum Cinta menempatkan kasih sayang sebagai landasan pendidikan madrasah. Nilai cinta tidak hanya bermakna emosional. Nilai itu juga memuat tanggung jawab, kepedulian, adab, dan kesadaran sosial.
Kementerian Agama menyebut lima tema utama Kurikulum Cinta, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Kelima tema tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi, terutama pada materi perubahan lingkungan.[8]
Pada materi perubahan lingkungan, guru dapat menanamkan cinta ilmu melalui kegiatan membaca data. Guru dapat menanamkan cinta lingkungan melalui observasi dan aksi. Guru dapat menanamkan cinta kepada Allah melalui refleksi atas ciptaan-Nya. Dengan demikian, pembelajaran Biologi menjadi ruang pembentukan ilmu dan akhlak ekologis.
Panduan Kurikulum Cinta juga memberi contoh asesmen yang menilai poster, infografik, jurnal refleksi, observasi kepedulian, dan komitmen menjaga kebersihan lingkungan. Model asesmen ini sangat sesuai dengan pembelajaran proyek pada materi perubahan lingkungan.[9]
C. Literasi Sains
Literasi sains mengarah pada kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk memahami fenomena, membaca data, dan mengambil keputusan. Dalam pembelajaran perubahan lingkungan, literasi sains muncul ketika siswa mampu menjelaskan pencemaran, menilai bukti, dan merancang solusi.
Capaian Pembelajaran Biologi Fase E menuntut siswa menciptakan solusi atas permasalahan lokal, nasional, atau global terkait keanekaragaman makhluk hidup, komponen ekosistem, interaksi antarkomponen, dan perubahan lingkungan. Karena itu, materi perubahan lingkungan sangat tepat untuk melatih literasi sains.[10]
Keterampilan proses dalam Biologi meliputi mengamati, mempertanyakan, memprediksi, merencanakan penyelidikan, menganalisis data, mengevaluasi, merefleksi, dan mengomunikasikan hasil. Semua keterampilan tersebut menjadi inti literasi sains dalam pembelajaran berbasis masalah dan proyek.[11]
D. Kepedulian Lingkungan
Kepedulian lingkungan merupakan sikap sadar, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam. Sikap ini tidak muncul hanya dari ceramah. Sikap ini tumbuh ketika siswa memahami masalah, mengalami proses, dan melakukan aksi nyata.
UNESCO menekankan bahwa sekolah hijau perlu mengintegrasikan keberlanjutan dalam tata kelola, pembelajaran, operasi sekolah, dan hubungan dengan komunitas. Pandangan ini sejalan dengan Kurikulum Cinta yang mendorong madrasah ramah lingkungan.[12]
Dalam pembelajaran Biologi, kepedulian lingkungan dapat dinilai melalui kebiasaan menjaga kebersihan, partisipasi dalam proyek, kemampuan mengajak teman, dan komitmen mengurangi perilaku yang merusak lingkungan. Guru perlu mengukur sikap ini dengan angket, observasi, dan jurnal refleksi.
E. Penelitian Terdahulu Tiga Tahun Terakhir
Pertiwi, Oetomo, dan Sugiharto menunjukkan bahwa STEM Project-Based Learning lebih unggul dibanding PjBL biasa dalam meningkatkan literasi lingkungan siswa. Penelitian tersebut menggunakan desain kuasi eksperimen dan analisis ANCOVA[13]
Selanjutnya, Pujiyanti, Darmawan, dan Permadani pada materi perubahan lingkungan menemukan bahwa model Problem Based Learning berpengaruh terhadap literasi sains dan motivasi belajar siswa kelas X. Temuan ini menunjukkan bahwa materi perubahan lingkungan efektif diajarkan melalui masalah nyata.[14]
Selain itu, Handayani dan Purnomo mengembangkan e-modul berbasis deep learning pada submateri pencemaran lingkungan. E-modul tersebut mengintegrasikan tahap memahami, menerapkan, dan merefleksi untuk melatihkan keterampilan proses sains.[15]
Fauziah, Surahman, dan Mustofa juga memetakan profil literasi sains siswa pada materi perubahan lingkungan. Penelitian tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang efektif untuk memperkuat literasi sains pada materi tersebut.[16]
Keempat penelitian tersebut mendukung gagasan bahwa materi perubahan lingkungan perlu diajarkan melalui pembelajaran aktif, berbasis masalah, berbasis proyek, dan berorientasi refleksi. Meskipun demikian, masih terdapat ruang kebaruan, yaitu integrasi eksplisit antara pembelajaran mendalam, Kurikulum Cinta, literasi sains, dan kepedulian lingkungan dalam konteks madrasah.
F. Kerangka Berpikir
Masalah awal pembelajaran terletak pada rendahnya kemampuan siswa menghubungkan konsep perubahan lingkungan dengan data dan aksi nyata. Pembelajaran yang terlalu verbal membuat siswa memahami istilah, tetapi belum tentu mampu menjelaskan fenomena secara ilmiah.
Pembelajaran mendalam menjawab masalah tersebut dengan memberi pengalaman memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Kurikulum Cinta memperkuatnya dengan nilai cinta ilmu dan cinta lingkungan. Integrasi keduanya membuat pembelajaran Biologi bergerak dari tahu, mampu, peduli, lalu bertindak.
Dengan alur tersebut, literasi sains meningkat melalui kegiatan membaca kasus, mengamati lingkungan, mengolah data, dan menyusun solusi. Kepedulian lingkungan meningkat melalui proyek, komitmen tindakan, dan refleksi spiritual.
BAB III METODE PENULISAN DAN RANCANGAN PENELITIAN
A. Jenis KTI
KTI ini disusun sebagai karya ilmiah konseptual-praktis. Naskah menggunakan kajian pustaka untuk membangun landasan teori dan rancangan Penelitian Tindakan Kelas untuk memberi arah implementasi. Format ini sesuai untuk guru yang ingin mengembangkan praktik baik pembelajaran di kelas.
Apabila naskah ini dikembangkan menjadi penelitian empiris, penulis dapat menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Guru dapat membandingkan hasil pretest dan posttest serta perubahan skor angket kepedulian lingkungan.
B. Subjek dan Lokasi Rancangan
Subjek rancangan ialah siswa kelas X Madrasah Aliyah Syarifuddin pada materi perubahan lingkungan. Penulis dapat menyesuaikan jumlah siswa dengan kondisi kelas. Lokasi rancangan berada di Madrasah Aliyah Syarifuddin, Lumajang, Jawa Timur.
C. Variabel atau Fokus Kajian
1. Variabel tindakan: pembelajaran mendalam berbasis Kurikulum Cinta.
2. Variabel hasil pertama: literasi sains siswa pada materi perubahan lingkungan.
3. Variabel hasil kedua: kepedulian lingkungan siswa.
4. Produk pembelajaran: poster, infografik, laporan observasi, jurnal refleksi, atau proyek aksi lingkungan.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Tes literasi sains sebelum dan sesudah pembelajaran.
2. Angket kepedulian lingkungan.
3. Lembar observasi aktivitas siswa.
4. Rubrik penilaian proyek lingkungan.
5. Jurnal refleksi ilmiah dan spiritual.
6. Dokumentasi kegiatan pembelajaran.
E. Teknik Analisis Data
Data tes literasi sains dapat dianalisis dengan rata-rata, persentase ketuntasan, dan N-Gain. Data angket kepedulian lingkungan dapat dianalisis dengan skor rata-rata per indikator dan kategori. Data observasi dan jurnal refleksi dapat dianalisis secara deskriptif.
Keberhasilan tindakan dapat ditetapkan melalui tiga indikator. Pertama, nilai rata-rata literasi sains meningkat setelah pembelajaran. Kedua, skor kepedulian lingkungan meningkat. Ketiga, siswa menghasilkan proyek yang menunjukkan solusi terhadap masalah lingkungan.
BAB IV RANCANGAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN
A. Prinsip Implementasi
Pembelajaran perlu dimulai dari masalah nyata. Dengan cara ini, siswa merasa materi dekat dengan kehidupannya. Guru dapat memakai foto lingkungan sekolah, berita pencemaran, data sampah kelas, atau video pendek tentang kerusakan ekosistem.
Selanjutnya, guru memberi ruang investigasi. Pada tahap ini, siswa mengamati, mencatat, bertanya, mengolah data, dan menyimpulkan. Aktivitas tersebut membentuk keterampilan proses sains.
Di samping itu, konsep Biologi perlu ditautkan dengan nilai Kurikulum Cinta. Nilai cinta lingkungan tidak cukup disebutkan di awal pembelajaran. Nilai itu harus muncul dalam tugas, proyek, asesmen, dan refleksi.
Terakhir, asesmen formatif perlu digunakan secara konsisten. Guru dapat memberi umpan balik saat siswa berdiskusi, mengamati, menyusun poster, dan menulis refleksi. Melalui umpan balik, siswa mengetahui kekuatan dan kelemahan pekerjaannya.
B. Sintaks Pembelajaran
| Tahap | Aktivitas Guru | Aktivitas Siswa | Nilai Kurikulum Cinta | Indikator Literasi Sains |
| Orientasi masalah | Menyajikan kasus pencemaran atau sampah di lingkungan sekitar. | Mengamati kasus dan menjawab pertanyaan pemantik. | Cinta lingkungan dan cinta ilmu. | Menjelaskan fenomena ilmiah. |
| Eksplorasi konsep | Membimbing siswa memahami perubahan lingkungan, pencemaran, dan ekosistem. | Membaca sumber dan berdiskusi dalam kelompok. | Cinta ilmu. | Memahami konsep dan istilah ilmiah. |
| Investigasi lingkungan | Mengarahkan observasi area sekolah atau rumah. | Mengumpulkan data jenis sampah, sumber pencemaran, atau kondisi tanaman. | Tanggung jawab dan kepedulian. | Mengumpulkan dan menafsirkan data. |
| Proyek aksi | Membimbing pembuatan solusi, poster, kampanye, eco-enzyme, atau audit sampah. | Membuat produk dan menyampaikan solusi. | Cinta lingkungan dan kerja sama. | Mengambil keputusan berbasis bukti. |
| Refleksi | Memimpin refleksi ilmiah dan spiritual. | Menulis jurnal tentang konsep, data, sikap, dan tindakan nyata. | Cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya. | Mengomunikasikan argumen dan refleksi. |
C. Contoh Skenario Pembelajaran Tiga Pertemuan
Pertemuan pertama berfokus pada orientasi masalah dan eksplorasi konsep. Guru menampilkan masalah lingkungan yang dekat dengan siswa, seperti sampah plastik di halaman madrasah. Siswa membaca sumber singkat, mengidentifikasi penyebab, dan menyusun pertanyaan ilmiah.
Pertemuan kedua berfokus pada investigasi lingkungan. Siswa melakukan observasi sederhana. Mereka mencatat jenis sampah, sumber pencemaran, atau perilaku warga madrasah. Setelah itu, mereka mengolah data menjadi tabel atau diagram sederhana.
Pertemuan ketiga berfokus pada proyek aksi dan refleksi. Siswa menyusun produk kampanye, poster, infografik, video singkat, atau rencana aksi. Guru menilai produk dengan rubrik. Siswa menulis jurnal refleksi tentang tindakan kecil yang akan mereka lakukan untuk menjaga lingkungan sebagai wujud cinta kepada Allah dan cinta lingkungan.
D. Pertanyaan Pemantik
1. Apa bukti bahwa lingkungan sekitar madrasah mengalami perubahan?
2. Bagaimana sampah plastik memengaruhi ekosistem?
3. Mengapa siswa perlu membaca data sebelum menyimpulkan masalah lingkungan?
4. Bagaimana konsep Biologi membantu kita menjaga ciptaan Allah?
5. Tindakan kecil apa yang dapat siswa lakukan mulai hari ini?
BAB V INSTRUMEN PENILAIAN
A. Kisi-Kisi Tes Literasi Sains
| Aspek Literasi Sains | Indikator | Contoh Bentuk Soal | Skor |
| Menjelaskan fenomena ilmiah | Siswa menjelaskan penyebab pencemaran dan dampaknya terhadap ekosistem. | Uraian berbasis kasus pencemaran sungai. | 0-4 |
| Menafsirkan data | Siswa membaca tabel jumlah sampah atau kualitas air. | Analisis tabel atau grafik sederhana. | 0-4 |
| Mengevaluasi bukti | Siswa menilai kesimpulan berdasarkan data. | Pernyataan benar-salah disertai alasan. | 0-4 |
| Menyusun solusi | Siswa mengusulkan tindakan berdasarkan konsep Biologi. | Uraian solusi lingkungan. | 0-4 |
B. Contoh Soal Literasi Sains
1. Sebuah kelas menghasilkan 3 kg sampah plastik dalam satu minggu. Sebagian besar sampah berasal dari kemasan makanan dan minuman. Jelaskan dampak sampah plastik terhadap ekosistem dan usulkan dua tindakan yang dapat dilakukan siswa untuk menguranginya.
2. Perhatikan data kualitas air berikut: air A berwarna jernih dan tidak berbau; air B berwarna keruh dan berbau; air C jernih tetapi terdapat banyak busa. Manakah air yang paling berpotensi tercemar? Jelaskan alasan ilmiahnya.
3. Seorang siswa menyimpulkan bahwa membakar sampah merupakan solusi terbaik karena sampah cepat hilang. Setujukah Anda dengan kesimpulan itu? Berikan alasan berdasarkan konsep pencemaran udara.
C. Angket Kepedulian Lingkungan
D. Rubrik Penilaian Proyek Lingkungan
| No | Pernyataan | Indikator | Skala |
| 1 | Saya membuang sampah pada tempatnya walaupun tidak diawasi guru. | Kebiasaan menjaga kebersihan | 1-4 |
| 2 | Saya membawa botol minum sendiri untuk mengurangi sampah plastik. | Tindakan pengurangan sampah | 1-4 |
| 3 | Saya mengingatkan teman yang membuang sampah sembarangan. | Keberanian sosial | 1-4 |
| 4 | Saya merasa menjaga lingkungan merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah. | Refleksi spiritual | 1-4 |
| 5 | Saya bersedia terlibat dalam proyek kebersihan dan penghijauan madrasah. | Partisipasi aksi | 1-4 |
D. Rubrik Penilaian Proyek Lingkungan
| Aspek | Skor 4 | Skor 3 | Skor 2 | Skor 1 |
| Ketepatan konsep | Konsep sangat tepat dan lengkap. | Konsep tepat tetapi belum lengkap. | Konsep kurang tepat. | Konsep tidak tepat. |
| Data dan bukti | Menggunakan data jelas dan relevan. | Menggunakan data tetapi terbatas. | Data kurang relevan. | Tidak memakai data. |
| Solusi | Solusi realistis dan berdampak. | Solusi realistis tetapi dampak terbatas. | Solusi kurang realistis. | Tidak ada solusi jelas. |
| Kerja sama | Semua anggota aktif. | Sebagian besar anggota aktif. | Hanya sedikit anggota aktif. | Kerja sama tidak tampak. |
| Nilai cinta lingkungan | Aksi dan refleksi sangat jelas. | Aksi dan refleksi cukup jelas. | Aksi ada tetapi refleksi lemah. | Tidak menunjukkan nilai cinta lingkungan. |
BAB VI PEMBAHASAN
A. Pembelajaran Mendalam Memperkuat Literasi Sains
Pembelajaran mendalam memperkuat literasi sains karena siswa belajar melalui masalah nyata. Dalam proses ini, siswa tidak hanya membaca definisi pencemaran. Mereka juga mengamati lingkungan, mencatat data, dan menghubungkan data dengan konsep Biologi.
Aktivitas membaca data melatih siswa menafsirkan bukti. Misalnya, ketika siswa menghitung sampah plastik kelas, mereka belajar melihat pola. Ketika mereka membandingkan kualitas air, mereka belajar menyusun alasan ilmiah. Proses ini membuat literasi sains berkembang secara alami.
Selain itu, pembelajaran berbasis proyek memberi ruang komunikasi ilmiah. Siswa perlu menjelaskan temuan kepada teman. Mereka juga harus menyampaikan alasan mengapa solusi yang mereka pilih penting. Dengan cara ini, siswa belajar berargumen secara ilmiah dan santun.
B. Kurikulum Cinta Menjadikan Sains Bernilai
Kurikulum Cinta membuat pembelajaran Biologi tidak kering dari nilai. Melalui pendekatan ini, guru mengajak siswa memahami bahwa alam bukan benda mati yang bebas dieksploitasi. Sebaliknya, alam merupakan ciptaan Allah yang harus dijaga dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.
Nilai cinta ilmu muncul saat siswa mencari penjelasan ilmiah. Selanjutnya, cinta lingkungan tampak ketika siswa melakukan aksi nyata. Sementara itu, cinta kepada Allah tumbuh ketika siswa mensyukuri keteraturan ekosistem. Ketiga nilai ini membuat pembelajaran lebih utuh.
Selain itu, integrasi nilai memperkuat identitas madrasah. Madrasah tidak hanya mengejar hasil akademik. Lembaga ini juga membentuk siswa yang cerdas, peduli, dan berakhlak ekologis.
C. Proyek Lingkungan Membentuk Kepedulian
Kepedulian lingkungan tumbuh melalui pengalaman langsung. Dengan pengalaman tersebut, siswa lebih mudah peduli ketika mereka melihat masalah, mengukur dampak, dan melakukan aksi. Karena itu, proyek lingkungan menjadi bagian penting dalam rancangan ini.
Namun, proyek tidak harus besar. Guru dapat memulai dari audit sampah kelas, poster ilmiah, kampanye membawa botol minum, perawatan tanaman, atau pembuatan eco-enzyme. Yang terpenting, proyek memiliki tujuan, data, produk, dan refleksi.
Guru juga perlu memberi apresiasi terhadap perubahan kecil. Apresiasi membuat siswa merasa tindakan mereka bermakna. Jika kebiasaan kecil dilakukan terus-menerus, budaya peduli lingkungan dapat tumbuh di madrasah.
D. Kebaruan Gagasan
Kebaruan KTI ini terletak pada integrasi empat unsur dalam satu desain pembelajaran. Keempat unsur tersebut ialah pembelajaran mendalam, Kurikulum Cinta, literasi sains, dan kepedulian lingkungan. Integrasi ini memberi warna khas madrasah pada pembelajaran Biologi.
Penelitian terdahulu banyak membahas PjBL, STEM, PBL, literasi sains, dan pencemaran lingkungan. Namun, belum banyak tulisan yang secara eksplisit menempatkan Kurikulum Cinta sebagai dasar etik pembelajaran Biologi. Karena itu, KTI ini dapat menjadi rujukan awal bagi guru MA yang ingin mengembangkan praktik baik serupa.
BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
1. Pembelajaran mendalam berbasis Kurikulum Cinta sesuai diterapkan pada materi perubahan lingkungan karena materi ini dekat dengan masalah nyata siswa dan memuat nilai kepedulian terhadap ciptaan Allah.
2. Model implementasi dapat dilakukan melalui lima tahap, yaitu orientasi masalah, eksplorasi konsep, investigasi lingkungan, proyek aksi cinta lingkungan, dan refleksi ilmiah-spiritual.
3. Literasi sains dapat ditingkatkan melalui kegiatan menjelaskan fenomena, membaca data, mengevaluasi bukti, dan menyusun solusi berbasis konsep Biologi.
4. Kepedulian lingkungan dapat diperkuat melalui aksi nyata, proyek lingkungan, observasi sikap, dan jurnal refleksi.
5. KTI ini dapat dikembangkan menjadi Penelitian Tindakan Kelas di Madrasah Aliyah Syarifuddin dengan dukungan data pretest, posttest, angket, observasi, dan dokumentasi proyek.
Daftar Pustaka
| Kementerian Agama Republik Indonesia. 2025. Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. hlm. 19, 50, 74-76 |
| Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 2025. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Edisi Revisi Ke-3. Jakarta: BSKAP. hlm. v dan 5 |
| Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 2025. Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Kemendikdasmen. hlm. 13-14 dan 26 |
| Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. CP & ATP Biologi Fase E. Sistem Informasi Kurikulum Nasional. laman web resmi; bagian Capaian per Elemen |
| Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 2025. Panduan Mata Pelajaran Biologi SMA/MA. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. hlm. 13-16 dan 19-20 |
| OECD. 2023. PISA 2022 Results: Factsheets – Indonesia. Paris: OECD Publishing. hlm. 3 |
| Pertiwi, T. U., Oetomo, D., & Sugiharto, B. 2024. The Effectiveness of STEM Project-Based Learning in Improving Students’ Environmental Literacy Abilities. JPBI: Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia, 10(2). hlm. 476-485 |
| Pujiyanti, N. R., Darmawan, E., & Permadani, K. G. 2025. Pengaruh Model Pembelajaran PBL pada Materi Perubahan Lingkungan terhadap Kemampuan Literasi Sains dan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 2 Magelang. BIODIK, 11(1). hlm. 206-217 |
| Handayani, S. T., & Purnomo, T. 2026. Validitas Modul Elektronik Berbasis Pendekatan Deep Learning Sub Materi Pencemaran Lingkungan untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa di SMA. Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi (BioEdu), 15(2). hlm. 530-545 |
| Fauziah, N., Surahman, E., & Mustofa, R. F. 2025. Profil Literasi Sains Peserta Didik di SMAN 8 Tasikmalaya pada Materi Perubahan Lingkungan. SCIENCE: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA, 5(1). hlm. 184-193 |
| UNESCO. 2024. Green School Quality Standard: Greening Every Learning Environment. Paris: UNESCO. hlm. pengantar dan standar mutu sekolah hijau |
| Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. 2018. Deep Learning: Engage the World Change the World. Thousand Oaks: Corwin. hlm. 13-40 sebagai rujukan konseptual deep learning |
| Hattie, J. 2023. Visible Learning: The Sequel. A Synthesis of Over 2,100 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.hlm. 1-35 dan 90-120 sebagai rujukan umum dampak pembelajaran dan umpan balik |
4. Instrumen tes dan angket perlu diuji validitasnya sebelum digunakan dalam penelitian formal.
[1]OECD, PISA 2022 Results: Factsheets – Indonesia, Paris: OECD Publishing, 2023, hlm. 3; bagian “What students know and can do in science” menyebut 34% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains.
[2]Kementerian Agama Republik Indonesia, Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah, 2025, hlm. 50.
[3]Kementerian Agama Republik Indonesia, Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, 2025, hlm. 19; bagian Madrasah Ramah Lingkungan menekankan lingkungan belajar lestari, bersih, rapi, dan praktik ramah lingkungan.
[4]Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, Edisi Revisi Ke-3, Jakarta: BSKAP, 2025, hlm. v.
[5]Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua, Jakarta: Kemendikdasmen, 2025, hlm. 26.
[6]Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen, Deep Learning: Engage the World Change the World, Thousand Oaks: Corwin, 2018, hlm. 13-40.
[7]John Hattie, Visible Learning: The Sequel. A Synthesis of Over 2,100 Meta-Analyses Relating to Achievement, London: Routledge, 2023, hlm. 1-35 dan 90-120.
[8]Kementerian Agama Republik Indonesia, Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, 2025, hlm. 66-69; bagian keterangan tema KBC memuat Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama, serta Cinta Tanah Air.
[9]Kementerian Agama Republik Indonesia, Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, 2025, hlm. 74-76; contoh pembelajaran menilai poster/infografik, jurnal refleksi, observasi sikap, dan komitmen menjaga lingkungan.
[10]Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, CP & ATP Biologi Fase E, Sistem Informasi Kurikulum Nasional, bagian Capaian per Elemen, diakses 20 Juni 2026.
[11]Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Panduan Mata Pelajaran Biologi SMA/MA, Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, 2025, hlm. 13-16.
[12]UNESCO, Green School Quality Standard: Greening Every Learning Environment, Paris: UNESCO, 2024, bagian pengantar dan standar mutu sekolah hijau.
[13]Tasya Umi Pertiwi, Dwi Oetomo, dan Bowo Sugiharto, “The Effectiveness of STEM Project-Based Learning in Improving Students’ Environmental Literacy Abilities,” JPBI: Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia 10, no. 2 (2024): 476-485.
[14]N. R. Pujiyanti, E. Darmawan, dan K. G. Permadani, “Pengaruh Model Pembelajaran PBL pada Materi Perubahan Lingkungan terhadap Kemampuan Literasi Sains dan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 2 Magelang,” BIODIK 11, no. 1 (2025): 206-217.
[15]Suci Tri Handayani dan Tarzan Purnomo, “Validitas Modul Elektronik Berbasis Pendekatan Deep Learning Sub Materi Pencemaran Lingkungan untuk Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa di SMA,” Berkala Ilmiah Pendidikan Biologi (BioEdu) 15, no. 2 (2026): 530-545.
[16]Nur Fauziah, Endang Surahman, dan Romy Faisal Mustofa, “Profil Literasi Sains Peserta Didik di SMAN 8 Tasikmalaya pada Materi Perubahan Lingkungan,” SCIENCE: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA 5, no. 1 (2025): 184-193.
