Fenomena Bediding dalam Perspektif Sains Data: Mengapa Musim Kemarau Terasa Dingin?

Fenomena Bediding menyebabkan udara pagi terasa dingin pada musim kemarau.

Oleh: Muhammad Ali Usman, S.Pd.

Pernahkah kita merasa udara menjelang subuh sangat dingin, padahal hujan sudah jarang turun? Pada siang hari, Matahari bahkan terasa terik. Namun, ketika malam tiba, suhu menurun dengan cepat. Sebagian masyarakat Jawa mengenal keadaan tersebut sebagai Fenomena Bediding.

Fenomena Bediding merupakan kondisi udara dingin pada malam hingga pagi hari yang sering terjadi ketika musim kemarau berlangsung. Meskipun siang terasa terik, suhu dapat turun cukup tajam setelah Matahari terbenam. Langit yang cerah, kelembapan yang rendah, Monsun Australia, serta pelepasan panas dari permukaan Bumi memicu kondisi ini. Melalui pendekatan sains data, perubahan tersebut dapat dipahami dengan menganalisis suhu, kelembapan, tutupan awan, angin, dan curah hujan.

Apa Itu Fenomena Bediding?

Masyarakat Jawa menggunakan istilah bediding atau bedhidhing untuk menggambarkan udara dingin yang terasa kuat sejak malam hingga pagi. pada musim kemarau. Pada saat yang sama, suhu siang dapat terasa hangat atau bahkan sangat panas.

BMKG menjelaskan bahwa udara dingin pada musim kemarau merupakan fenomena alamiah. Kondisi tersebut umum terjadi ketika wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara memasuki periode kemarau. Pada masa itu, angin timuran yang berasal dari Australia semakin dominan.[1]

Kontras suhu harian menjadi karakter utama bediding. Udara dapat terasa panas ketika Matahari bersinar pada siang hari. Setelah Matahari terbenam, suhu kemudian menurun lebih cepat karena panas permukaan mudah terlepas ke atmosfer.

Oleh karena itu, bediding tidak berarti Indonesia mengalami musim dingin seperti negara subtropis. Indonesia tetap memiliki pola musim yang dipengaruhi oleh sirkulasi monsun, distribusi curah hujan, kelembapan, dan dinamika atmosfer tropis.[2]

Mengapa Malam Kemarau Justru Terasa Lebih Dingin?

Banyak orang menganggap musim kemarau selalu identik dengan suhu panas. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun, suhu siang dan malam dipengaruhi oleh proses yang berbeda.

Pada siang hari, sinar Matahari memanaskan tanah, bangunan, jalan, tumbuhan, dan berbagai permukaan lainnya. Permukaan tersebut kemudian menyimpan sebagian energi panas. Ketika malam tiba, permukaan Bumi melepaskan kembali energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang panjang.

Saat langit dipenuhi awan, sebagian panas dapat tertahan dan dipancarkan kembali menuju permukaan. Awan bekerja seperti selimut alami bagi Bumi. Sebaliknya, ketika langit cerah, panas lebih mudah terlepas sehingga permukaan mendingin dengan lebih cepat.

Proses tersebut dikenal sebagai pendinginan radiasi atau radiational cooling. Pendinginan malam biasanya berlangsung lebih kuat ketika langit cerah, udara relatif kering, dan kecepatan angin rendah.[3]

Dengan demikian, malam yang cerah tidak selalu terasa hangat. Dalam kondisi tertentu, langit tanpa awan justru mempercepat penurunan suhu.

Peran udara kering

Uap air merupakan salah satu komponen atmosfer yang berperan dalam menyerap dan memancarkan energi panas. Ketika kandungan uap air menurun, kemampuan atmosfer untuk mempertahankan panas di dekat permukaan juga dapat berkurang.

Pada musim kemarau, udara di sebagian wilayah Indonesia cenderung lebih kering. Kondisi tersebut sering disertai penurunan jumlah awan. Akibatnya, panas yang terkumpul pada siang hari lebih mudah dilepaskan setelah Matahari terbenam.

Masyarakat kemudian merasakan perubahan yang cukup mencolok. Siang terasa terik, sedangkan dini hari hingga pagi terasa dingin.

Pengaruh Monsun Australia terhadap Udara Dingin

Monsun merupakan sistem angin berskala luas yang mengalami perubahan arah mengikuti pola musim. Ketika musim kemarau berlangsung, sebagian wilayah Indonesia mendapat pengaruh lebih kuat dari angin timuran atau Monsun Australia.

Massa udara dari wilayah Australia umumnya lebih kering. Pada pertengahan tahun, Australia juga berada dalam periode musim dingin. Aliran udara tersebut dapat memengaruhi wilayah selatan Indonesia, termasuk sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.[4]

Namun, Monsun Australia bukan satu-satunya penyebab udara dingin. Berbagai faktor atmosfer membentuk suhu minimum suatu wilayah. Tutupan awan, kelembapan, kondisi angin, ketinggian tempat, bentuk permukaan wilayah, dan proses pendinginan malam ikut menentukan tingkat penurunan suhu.

Pada 2026, BMKG memantau penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering ke sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut ikut mengurangi pembentukan awan dan meningkatkan penyinaran Matahari pada siang hari.[5]

Menariknya, kondisi ini dapat menghasilkan dua pengalaman cuaca yang berbeda dalam satu hari. Masyarakat dapat merasakan panas ketika beraktivitas pada siang hari, tetapi membutuhkan jaket atau selimut lebih tebal pada dini hari.

Ketinggian Wilayah Dapat Memperkuat Udara Dingin

Tidak semua wilayah merasakan bediding dengan tingkat yang sama. Daerah dataran tinggi biasanya mengalami suhu lebih rendah dibandingkan wilayah pesisir atau dataran rendah.

Ketinggian memengaruhi karakter suhu udara. Selain itu, bentuk lembah dan pegunungan dapat menyebabkan udara dingin berkumpul di daerah tertentu. Karena itu, kawasan seperti Bromo dan dataran tinggi lainnya dapat mengalami penurunan suhu yang lebih kuat.

Data Stasiun Klimatologi Jawa Timur menunjukkan bahwa AWS Bromo di Kabupaten Probolinggo mencatat suhu minimum sekitar 5,8°C pada periode 2–3 Juli 2026.[6] Angka tersebut menunjukkan bahwa suhu udara di wilayah tropis dapat turun cukup rendah, khususnya pada kawasan dengan elevasi tinggi.

Namun, data dari satu lokasi tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh Jawa Timur. Setiap wilayah memiliki ketinggian, tutupan lahan, kelembapan, dan kondisi atmosfer yang berbeda. Oleh sebab itu, analisis cuaca harus mempertimbangkan lokasi pengamatan.

baca juga : Mengapa Membentak Bukan Solusi Disiplin

Membaca Fenomena Bediding melalui Sains Data

Sains data membantu manusia menemukan pola dari kumpulan informasi. Dalam kajian cuaca, peneliti dapat menggabungkan data suhu, curah hujan, kelembapan, angin, dan tutupan awan.

Data tersebut tidak hanya menunjukkan apakah suatu hari terasa dingin. Analisis juga dapat membantu menjawab beberapa pertanyaan penting.

Apakah suhu minimum terus menurun selama beberapa minggu? Apakah malam yang lebih cerah cenderung lebih dingin? Apakah kelembapan rendah berkaitan dengan penurunan suhu? Seberapa besar pengaruh ketinggian terhadap suhu minimum?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti membutuhkan data yang terukur dan dikumpulkan secara konsisten. Organisasi Meteorologi Dunia menempatkan suhu, kelembapan, angin, curah hujan, radiasi, serta kondisi awan sebagai bagian penting dalam pengamatan meteorologi.[7]

Beberapa variabel yang dapat digunakan untuk menganalisis bediding terlihat pada tabel berikut.

VariabelFungsi dalam Analisis
Suhu minimumMenunjukkan suhu terendah dalam satu hari
Suhu maksimumMenunjukkan tingkat pemanasan pada siang hari
Kelembapan udaraMenggambarkan kandungan uap air di atmosfer
Curah hujanMembantu membaca kondisi musim
Tutupan awanBerkaitan dengan penerimaan dan pelepasan energi
Arah anginMembantu mengetahui asal massa udara
Kecepatan anginMemengaruhi percampuran udara dekat permukaan
Ketinggian wilayahMembantu menjelaskan perbedaan suhu antarlokasi
Lama penyinaran MatahariMenunjukkan durasi penerimaan energi Matahari

Selanjutnya, Peneliti dapat menyajikan data tersebut dalam grafik harian atau bulanan. Grafik tersebut akan memudahkan pembaca melihat perubahan suhu dari waktu ke waktu.

Mengukur perbedaan suhu siang dan malam

Salah satu ukuran sederhana ialah rentang suhu harian atau Diurnal Temperature Range.

Rumusnya sebagai berikut:

Rentang Suhu Harian = Suhu Maksimum − Suhu Minimum

Sebagai contoh, suatu wilayah memiliki suhu maksimum 32°C dan suhu minimum 18°C.

Maka:

32°C − 18°C = 14°C

Nilai 14°C menunjukkan adanya perbedaan suhu yang cukup besar antara siang dan malam. Semakin besar rentangnya, semakin kuat perubahan suhu yang dirasakan masyarakat.

Namun, rentang suhu tidak boleh menjadi satu-satunya indikator. Analisis tetap perlu mempertimbangkan kelembapan, angin, tutupan awan, dan kondisi geografis.

Bagaimana Data Cuaca Diolah?

Analisis bediding dapat dilakukan melalui beberapa tahap.

Analisis dimulai dengan pengumpulan data cuaca dari stasiun pengamatan. Selanjutnya, peneliti memeriksa kelengkapan dan kualitas setiap data. Setelah proses tersebut selesai, grafik membantu memperlihatkan pola perubahan suhu. Pada tahap berikutnya, analisis statistik mengungkap hubungan antarvariabel. Terakhir, peneliti dapat menyusun model prediksi berdasarkan pola yang ditemukan.

Meskipun demikian, model prediksi tidak selalu menghasilkan jawaban yang sempurna. Cuaca merupakan sistem yang kompleks. Banyak faktor atmosfer bekerja secara bersamaan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Contoh Rancangan Analisis Sederhana

Siswa atau guru dapat membuat proyek literasi data cuaca dengan menggunakan tabel pengamatan berikut.

TanggalSuhu PagiSuhu SiangKelembapanKondisi LangitCurah Hujan
Hari ke-120°C31°C72%Cerah0 mm
Hari ke-219°C32°C68%Cerah0 mm
Hari ke-322°C29°C81%Berawan2 mm
Hari ke-418°C32°C64%Cerah0 mm

Data pada tabel tersebut hanya merupakan contoh pembelajaran, bukan data hasil pengamatan wilayah tertentu.

Siswa dapat menghitung rentang suhu setiap hari. Selanjutnya, mereka dapat membandingkan kondisi langit dengan suhu pagi.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya menghafal penyebab bediding. Mereka belajar mengamati, mengolah data, menguji dugaan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti.

Apakah Bediding Disebabkan oleh Aphelion?

Setiap pertengahan tahun, informasi tentang aphelion sering beredar di media sosial. Aphelion merupakan posisi ketika Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari dalam lintasan orbitnya.

Sebagian informasi kemudian menghubungkan aphelion dengan suhu dingin di Indonesia. Namun, BMKG menjelaskan bahwa pengaruh aphelion terhadap penurunan suhu di Indonesia tidak signifikan.[8]

Perubahan suhu di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika atmosfer regional dan lokal. Monsun Australia, kelembapan, tutupan awan, angin, serta pelepasan panas pada malam hari memberikan penjelasan yang lebih kuat terhadap munculnya udara dingin pada musim kemarau.

Dengan demikian, masyarakat perlu berhati-hati saat menerima informasi cuaca dari media sosial. Informasi ilmiah sebaiknya diperiksa melalui data dan sumber resmi.

baca juga : Mengenal Musim Kemarau dan Perubahan Cuaca di Indonesia

Mengapa Literasi Cuaca Penting?

Cuaca memengaruhi banyak kegiatan manusia. Petani menggunakan informasi cuaca untuk mengatur masa tanam. Nelayan mempertimbangkan angin dan gelombang sebelum melaut. Sekolah juga dapat menggunakan informasi suhu dan hujan untuk menyesuaikan kegiatan luar ruangan.

Pemahaman terhadap bediding membantu masyarakat mempersiapkan diri. Pakaian hangat dapat digunakan pada pagi hari. Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, perlu menjaga kondisi tubuh ketika suhu berubah cukup cepat.

Selain itu, literasi cuaca dapat mengurangi penyebaran informasi yang tidak tepat. Masyarakat tidak mudah percaya pada klaim yang hanya didasarkan pada dugaan. Mereka dapat memeriksa data, membaca penjelasan lembaga resmi, dan membandingkan informasi dari beberapa sumber.

Pada Dasarian II Juli 2026, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau semakin meluas di berbagai wilayah.[9] Namun, kondisi setiap daerah tetap dapat berbeda. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi cuaca setempat.

Kesimpulan

Fenomena Bediding merupakan kondisi udara dingin pada malam hingga pagi yang umum dirasakan ketika musim kemarau berlangsung. Fenomena ini tidak menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami musim dingin.

Langit yang lebih cerah membuat panas permukaan lebih mudah terlepas pada malam hari. Udara yang relatif kering, pengaruh Monsun Australia, kondisi angin, serta karakter geografis turut memengaruhi penurunan suhu.

Sains data membantu masyarakat memahami bediding secara lebih objektif. Data suhu minimum, kelembapan, tutupan awan, curah hujan, arah angin, dan ketinggian dapat digunakan untuk menemukan pola serta menguji dugaan.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa pengalaman sehari-hari dapat dipahami melalui proses pengamatan. Ketika udara pagi terasa lebih dingin, kita tidak hanya bertanya, “Mengapa hari ini dingin?” Kita juga dapat melihat data, membaca pola, dan mencari penjelasan berdasarkan bukti.

Rekomendasi

Masyarakat sebaiknya menggunakan informasi BMKG sebagai rujukan utama dalam memahami perubahan cuaca. Sekolah juga dapat menjadikan pengamatan suhu sebagai proyek pembelajaran berbasis data.

Selain itu, guru dapat mengintegrasikan topik bediding ke dalam pembelajaran Geografi, Fisika, Matematika, Informatika, dan Projek Sains. Pendekatan tersebut dapat menguatkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan keterampilan analisis data peserta didik.

Catatan Kaki

[1] Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Mencermati Periode Terjadinya Embun Upas dan Bediding,” 27 Juli 2021. al Atmosphere Watch Bariri–BMKG, “Orbit Elips dan Dua Titik Penting: Aphelion dan Perihelion,” 11 Juli 2025. Kong Observatory, “What Is Radiation Cooling?” Pendinginan malam dipengaruhi oleh tutupan awan, kelembapan, dan kekuatan angin. iun Klimatologi Sumatera Selatan–BMKG, “Fenomena Udara Dingin (Bediding) pada Musim Kemarau.” n Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Penurunan Suhu Udara Mulai Terasa Seiring Penguatan Monsun Australia,” 11 Juni 2026. iun Klimatologi Jawa Timur–BMKG, “Suhu Minimum Harian di Jawa Timur Tanggal 2–3 Juli 2026.” d Meteorological Organization, Guide to Instruments and Methods of Observation, WMO-No. 8. n Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Apakah Aphelion Mempengaruhi Suhu Udara di Indonesia?” 6 Juli 2018. n Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Memasuki Pertengahan Juli, Curah Hujan Diprediksi Tetap Rendah di Sebagian Besar Wilayah,” 9 Juli 2026. r Pustaka

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. “Apakah Aphelion Mempengaruhi Suhu Udara di Indonesia.” 6 Juli 2018.

———. “Mencermati Periode Terjadinya Embun Upas dan Bediding.” 27 Juli 2021.

———. “Penurunan Suhu Udara Mulai Terasa Seiring Penguatan Monsun Australia.” 11 Juni 2026.

———. “Memasuki Pertengahan Juli, Curah Hujan Diprediksi Tetap Rendah di Sebagian Besar Wilayah.” 9 Juli 2026.

Global Atmosphere Watch Bariri–BMKG. “Orbit Elips dan Dua Titik Penting: Aphelion dan Perihelion.” 11 Juli 2025.

Hong Kong Observatory. “What Is Radiation Cooling?”

Stasiun Klimatologi Jawa Timur–BMKG. “Suhu Minimum Harian di Jawa Timur Tanggal 2–3 Juli 2026.”

Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan–BMKG. “Fenomena Udara Dingin (Bediding) pada Musim Kemarau.”

World Meteorological Organization. Guide to Instruments and Methods of Observation. WMO-No. 8.

Fenomena Bediding dalam Perspektif Sains Data: Mengapa Musim Kemarau Terasa Dingin?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas